Alfatihah untukmu.
Sudah 2020.
Aku ingin mendedikasikan hari kedua di tahun baru ini untuk sedikit berkilas balik atas kejadian yang tak terduga di tahun 2019 lalu.
Aku, anak yang tidak terlalu baik ini kini sedang merenung.
Aku, anak yang tidak terlalu berbakti ini kini sedang menyesal.
Aku, anak yang tidak penyabar ini kini sedang bersedih.
Oktober, 2019.
Aku sedang berada di luar rumah. Aku bahkan tak memiliki firasat tertentu akan hal yang akan terjadi di siang hari itu.
Aku sibuk dengan urusanku. Aku tidak menyisakan satu hari yang tidak bisa diulang kembali itu untuk bersamanya.
Aku tidak berada disaat terakhirnya.
Hari itu adalah hari yang tak pernah kukira sebelumnya. Aku, mendengar berita kepergiannya. Aku menangis di depan umum saat mendengar kabar tentangnya. Semua waktu yang telah ku sia-siakan terlintas dipikiranku. Semua kasih sayang dan pengorbanannya teringat nyata diingatanku.
Aku seketika menuju ke rumah sakit untuk melihatnya. Melihatnya terbujur kaku dengan raut wajah yang tenang dan tidak lagi merasa akan sakitnya.
Aku kira, kepergiannya tidak akan secepat ini. Ku kira kematian itu tidaklah nyata hingga orang terdekatku yang kini mengalaminya.
Hari itu juga kami mennyolatkan dan membawa jenazahnya ke kampung halaman yang selalu ia cintai dan rindukan suasananya. Pertama kalinya aku menaiki kendaraan jenazah dan duduk berdampingan dengan jenazahnya. Ku lantunkan ayat kursi dan alfatihah sepanjang perjalanan mengantarnya.
Setelah tiba di kampung halaman, kami pun mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Aku tahu, menangisi hanya akan mempersulitnya. Tapi tak bisa ku bendung air mataku sekuat apapun ku mencoba.
Lama aku dan yang lain terduduk di pemakaman. Memandang lurus ke kuburan yang masih basah dan wangi bunga tersebut. Sekaligus mempermudahnya dalam menjawab pertanyaan Malaikat yang akan datang karena kami masih berada di dekatnya.
Hari itu pun ku habiskan dengan mengingat hal-hal yang telah kami habiskan bersama. Semua perlakuan baiknya, kesabarannya yang luar biasa, dan kasih sayangnya yang tiada henti membuat hati ini semakin teriris dan menyesal.
Kini aku hanya bisa mendoakannya, memperbanyak bersedekah atas namanya, menjaga nama baiknya, dan menjalani kehidupan dengan lebih baik lagi dari sebelumnya.
Kini hanya alfatihah yang bisa selalu kuberikan untukmu diselesai sholatku.
Alfatihah untukmu, mamaku.

Comments
Post a Comment